April 12, 2010


My rating: 3 of 5 stars

kau tidak perlu menjadi pecandu heroin atau pembaca puisi untuk mendapatkan pengalaman dramatis, kau hanya perlu mencintai seseorang.

katie carr seorang istri dan ibu dari dua orang anak mulai merasa jenuh dengan kehidupan na, dengan suami na, david, dan memutuskan meminta cerai. dia tak lagi mempertimbangkan anak dan merasa david ’menjengkelkan’. sebagai kolomis yang mengasuh rubrik berisikan kemarahan-kemarahan, katie merasa suami na tidak cukup membantu dalam kehidupan ekomini mereka dan hanya sibuk mengkritik semua hal.

permintaan percereian tersebut tampak na tidak mendapat tanggapan serius dari david dan menjadi pembenaran bagi katie untuk tetap berselingkuh. namun suatu saat david memutuskan pergi selama 2 hari dan.. semua na berubah..

dia tak lagi suka memaki dan bersikap... terlalu baik. sungguh menjengkelkan ketika suami yang ingin kau ceriakan tiba-tiba memaklumi perselingkuhanmu, bertemu dengan selingkuhanmu, seakan dia sangat mencintaimu dan ingin mempertahankanmu. saat satu masalah selesai, dia membawa teman na ke rumah, menjadi tanggunganmu selain suami dan anak-anakmu sedangkan suami yang kau pertahankan sekarang tidak bekerja tapi sibuk... mengubah dunia.

hanya karena banyak orang tidak menemui masalah dengan sesuatu, tidak bearti mereka benar. argh... pantaslah kalo geregetan melihat sikap seperti ini. saat pernikahan terancam, suami na bukan mencari penyelesaian akan masalah perkawinan tapi malah sibuk mengurusi permasalahan anak jalanan, dan keadilan sosial sedangkan anak na sendiri terlibat konflik karena sikap ayah na ini. argh.. begitulah.

suami yang tidak berusaha menyelamatkan perkawinan na sementara si istri setengah mati mengatur hati na, perasaan na, jam biologis na demi menyelamatkan perkawinan dan anak-anak na. menjalankan peran sebagai istri, ibu sekaligus bekerja menghidupi 2 anak + suami + teman suami + gelandangan yang ditampung di rumah ketika suami tak lagi bekerja dan sibuk dengan rencana mengubah dunia. tapi... bagaimanapun dia suamimu, yang telah kau pilih saat kau mengucapkan janji pernikahan itu, dengan segala kesintingan atau dalam keadaan normal na.

ada kala na keinginan untuk merasakan kebebasan dari kehidupan seorang istri, seorang ibu, muncul. tapi kewajiban itulah yang ada ketika suatu keputusan menikah diambil, dan... kebutuhan itu adalah induk dari semua penciptaan. harus ada pilihan akal sehat untuk melakukan banyak hal. keluar dari rutinitas tanpa mengabaikan kewajiban. kita tak bisa jadi pembohong selama na bukan.. untuk selalu lari dari kenyataan. perlu ada waktu untuk diri sendiri, membangun istana milik kita, sebentar, tanpa intervensi dari dunia luar, baik rutinitas, dunia kerja, suami dan anak. perlu ada ruang milik sendiri untuk berdiam dan menikmati diri tanpa perlu lari dari semua realita yang tampak na monoton, yang sayang na atas pikiran sadar, telah kita pilih.

kisah dengan inti yang sederhana, keraguan akan suatu pernikahan yang tampak seperti itu-itu saja, suami yang menjengkelkan, anak yang tidak menurut perkataan orang tua. sampai pembaca juga ragu akan kan menutup buku ini atau tetap meneruskan membaca na... seakan memunculkan keberpihakan yang dibuat penulis untuk pembaca kepada katie dalam menghadapi suami yang ‘seperi itu’. namun... pikiran yang diajukan david dalam keinginan na mengubah dunia kadang cukup meyakinkan. ‘karena aku ingin mengubah cara berpikir orang-orang, aku tidak bisa mengubah cara berpikir orang-orang kalau aku berpikir seperti orang-orang lain.’ masuk akal bukan??? wajar kalau dia tampak sinting, karena dia berbeda.

orang-orang sekarang sibuk dengan kehidupan mewah mereka, hidup bahagia = mewah. benarkah? pernahkan kita menengok sebentar kepada orang-orang yang tinggal di belantaran sungai, yang bekerja hampir 12 jam sehari, yang harus mengamen di perempatan-perempatan jalan, yang menjual diri hanya untuk sehari lagi makan kenyang. sempatkah mereka memikirkan kehidupan mewah? jangankan hidup mewah atau menabung, mempertahankan satu nafas dan jantung yang masih berdetak satu hari lagi mereka ragu. penjual asongan yang kehidupan na cemas dengan trantip, pengemudi angkot yang cemas dengan kenaikan harga BBM, buruh pabrik yang cemas dengan kemungkinan PHK. selalu ada kecemasan di setiap tempat di dunia ini. salahkah jika ada orang yang menginginkan perbaikan dari hal-hal semacam ini???

sayang na.. david tidak mengkomunikasikan dengan cukup baik. namun.. kembali lagi... kebutuhan adalah induk semua penciptaan. kebutuhan akan apakah sebuah pernikahan... nah, itulah dia.


nb: cara penulis menyampaikan gagasan na melalui sudut pandang katie semakin dibuat lebih personal lagi dengan catatan pendapat-pendapat katie yang tidak diungkapan dalam percakapan na, sehingga pembaca sungguh-sungguh dibuat terlibat secara pribadi dengan katie. -***-

0 komentar:

 
Copyright 2009 footprint